Friday, 26 April 2013
KISAH SEORANG NENEK PEMUNGUT DAUN
Selembar
demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari
Banyak
pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu
Orang-orang
menjelaskan bahwa mereka
kasihan kepadanya."Jika kalian kasihan
kepadaku,"kata nenek itu, "Berikan
kesempatan kepadaku untuk membersihkannya
-¬." Singkat cerita, nenek itu
dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti
biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk
menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu. "Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya."Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan.
Saya
tidak mungkin selamat pada
hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi
Muhammad. Setiap kali saya mengambil
selembar daun, saya ucapkan satu salawat
kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati,
saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya.
Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya." Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasululloh saw?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)










0 comments:
Post a Comment